Tampilkan postingan dengan label Notes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Notes. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Februari 2017

Di Atas Sajadah

di atas sajadah ini kutulis kenangan 
kumemilih cinta yang sejati 
di atas sajadah ini kuucapkan salam 
perpisahan untukmu di sana


Surat untuk Ra

  • Dan ini, adalah kumpulan surat untuk Ra, dari seorang pecandu Analgesik. 
  • Yang akan tetap menjadi pecandu, hingga dia menemukan cinta yang dia cari.
  • Cinta yang menjadi penghilang rasa sakit, bukan penyebab rasa sakit.

  • Foto Wiwit 'sri Wijayanti'.
    Hutan Sedayu
  • rejeki_sSurat Pertama Untuk Februari
    ------------------------
    Ra, sudah beberapa hari ini aku mengkonsumsi analgesik.
    Dan aku mulai menikmatinya.
    Tablet itu bisa membuatku tak lagi harus merasakan sakit.
    .
    Jangan khawatirkan aku.
    Aku bukan pecandu.
    Dan percayalah, ini hanya sementara.
    .
    Hanya sementara.
    Sampai aku bisa mencintai siang sama seperti aku mencintai malam.
    .
    Tidak seperti yang kusampaikan padamu waktu itu.
    Bahwa aku lebih mencintai malam, karna aku bisa terlelap dan terbebas dari rasa sakit.
    Bahwa aku lebih mencintai malam, karna siang terlalu melelahkan.
    .
    Ra, kamu lihat anak-anak itu.
    Aku iri pada mereka.
    Bagi mereka, hutan dan teman-teman sudah lebih dari cukup untuk melupakan sakit karna terjatuh saat berlarian.
    Lebih dari cukup.
    Lebih dari sekedar tablet analgesik...
    ------------------------
    #suratpertama
    #suratuntukra
    #suratuntukfebruari2017
    #eigeradventure
    #pecandubuku
    ๐Ÿ“ท on the way to @gulinganjunglepark

Lautan dan Samudra (Meera-Sam)

      • Ini adalah cerita tentang Meera dan Sam, seorang perempuan dan laki-laki dewasa, yang empat bagiannya saya tulis dalam #30haribercerita di Instagram. 

        • "Saya menggunakan hastag #ceritafiksi", that's what I answered ketika ada yang bertanya, "Ini kisah nyata?"
        • Menurutmu? Ini fiksi atau nyata? Atau bisa jadi kamu ada di dalamnya? Atau kamu akan ada di dalamnya? Iya, karena kisah masih menungggu waktu untuk menyelesaikannya. Dan mungkin juga menunggumu.
        rejeki_sJanuary, 15th, 2017
        MUURGEDICHTEN
        ------------------------------
        Kamu pernah mendengar cerita tentang kota 101 puisi?
        Kota di mana syair-syair indah dalam berbagai bahasa, karya para penyair dari berbagai belahan dunia, diabadikan menjadi penghias tembok-tembok kota.
        .
        Kamu pernah mendengar cerita tentang kota tua yang cantik?
        Kota yang dipenuhi dermaga, di mana kapal-kapal kecil bersandar rapi di tepian sungai yang juga sangat cantik.
        .
        Atau kamu pernah mendengar cerita tentang kota yang menyimpan banyak kepingan sejarah Indonesia?
        Kota yang menjadi saksi bisu perjuangan para bapak bangsa.
        .
        Kota tua yang cantik, yang dihiasi 101 puisi, yang menyimpan banyak kepingan sejarah Indonesia itu bernama LEIDEN.
        .
        Dan malam itu, di salah satu sudut kota Leiden, sepasang anak manusia berdiri sejajar, menatap barisan lampu kota yang bercermin di wajah sungai Rijn.
        .
        Lama mereka terdiam, sampai suara lirih tertahan memecah keheningan,
        "Kita di friend zone?", tanya Meera.
        "Iya.", jawab Sam.
        ------------------------------
        (to be continued)
        ------------------------------
        Dulu aku berpikir, tak ada yang salah dengan rindu
        Bahkan ketika kamu merindukan orang yang sama sekali tidak tahu bahwa kamu merindukannya

        Tapi ternyata itu salah
        Bahkan sangat salah

        ๋ณด๊ณ ํŒŒ ๋ณด๊ณ ํŒŒ์„œ ๊ทธ๋Œ€๊ฐ€ ๋ณด๊ณ ํŒŒ์„œ
        ๋งค์ผ ๋‚œ ํ˜ผ์ž์„œ๋งŒ ๊ทธ๋Œ€๋ฅผ ๋ถ€๋ฅด๊ณ  ๋ถˆ๋Ÿฌ๋ด์š”
        ------------------------------
        #ceritafiksi001 #meerasam #leiden #becauseimissyou #30hbclagu #30haribercerita #30hbc1715 @30haribercerita

Kamis, 05 Januari 2017

Bukan Sri Ningsih

Jangan telat menikah, orang-orang tidak akan bertanya, "hartamu berapa?", tapi mereka akan bertanya, "anakmu berapa?".

Itu adalah bunyi pesan singkat dari salah satu sahabatku beberapa tahun yang lalu. Pesan yang sampai sekarang tidak mampu aku balas, karna bagiku itu terlalu menyakitkan.

Dulu aku hanya diam, membiarkan pesan itu terbaca tanpa balasan.
Sekarang, setelah membaca kisah Ibu Sri Ningsih di novel Tentang Kamu, aku jadi seperti Zaman Zulkarnaen yang lantas berpikir, bagaimana jika kalimat itu ditujukan untuk Ibu Sri Ningsih? Kira-kira bagaimana beliau meresponnya?

Ahhh, wanita sebaik itu, mungkin dia juga hanya bisa diam, tapi diamnya pasti bukan diam yang menahan rasa sakit. Diamnya pasti diam yang ikhlas, diam yang memeluk rasa sakit. Karna rasa cinta pada sahabat telah melebihi rasa sesakit apapun yang pernah dirasakannya.

Tapi aku bukan Sri Ningsih, aku Sri Rejeki, yang masih tertatih berjalan menuju titik di mana aku bisa menerima dengan ikhlas setiap kejadian menyakitkan. Iya, menyakitkan ketika seseorang yang kamu anggap sahabat, ternyata menghakimimu dengan begitu mudah. Menyimpulkan bahwa "harta" adalah alasan kenapa sampai sekarang kamu belum menikah, bahkan tanpa rasa ingin mendengarkan kejadian-kejadian yang telah kamu lewati.

Ahhh, untuk apa juga dia mendengarkan jika apa yang dia lihat menurutnya sudah cukup untuk bisa membuat kesimpulan. Dia mungkin tak memerlukan kerangka pemikiran, hipotesis, apalagi analisis.

Sorry for never respond your message. It's not because I hate you, but I love you, and I'm afraid that my words will become swords.

Untuk setiap orang yang kebetulan membaca postingan ini, mengertilah, "Jangan telat menikah, Jangan telat punya anak, itu berbeda dengan Jangan telat makan" ☺




Rabu, 07 Desember 2016

I CARE

I CARE
I will always CARE
And it's my problem

Aku selalu memperhatikanmu
Bahkan ketika mungkin kau tak pernah sekalipun melihatku
Aku selalu memikirkanmu
Bahkan ketika mungkin aku tak pernah sekalipun terlintas dalam pikiranmu

Mungkin aku terlambat
Terlambat menyadari, ketika memperhatikanmu dan memikirkanmu terlanjur menjadi candu
Terlambat menyadari bahwa saat ini aku bukanlah apa-apa bagimu dan bahwa saat ini tidak ada apa-apa di antara kita

Aku terlanjur menceritakan tentang kamu padaNya, satu-satunya tempat di mana aku bisa bercerita
Menceritakan tentang ketidakberdayaanku atau lebih tepatnya kebodohanku

Dan entah I CARE or I'M STUPID

Note:
I is not always I'M


Selasa, 15 November 2016

Kisah Laki-laki dan Perempuan Dewasa

Autumn 2013 di Universiteit Utrecht
Tujuan yang sama memang mempertemukan orang-orang dalam perjalanan, tapi tidak selalu menjadi alasan cukup bagi dua orang untuk memutuskan menempuh perjalanan bersama. Life is not simple as it seems..

Ini cerita tentang dua manusia dewasa dengan tujuan yang sama, yang mungkin sempat atau bahkan masih mengharapkan dapat menempuh perjalanan bersama. Mungkin tak perlu waktu lama untuk memutuskan berjalan bersama, andai mereka bukan manusia dewasa. As we're getting older, everything's becoming more and more complicated..

Sabtu, 22 Oktober 2016

Jingga dan Rindu

Jingga berkata, "senja itu pintar, datang ketika rindu, benar-benar rindu"
Yang sakit itu bukan merindu, tapi merasa kosong karena tidak ada yang dirindu
Tapi tak mengapa
Karena kutahu ada seseorang yang dengan baik sedang merindukan keberadaanku
Akupun akan melakukan hal yang sama dengannya
Merindukanka meski mata dan kata tak mampu bertemu

Untukmu yang kelak akan menjadi pendampingku
Yang namanya telah tertulis di lauhul mahfuz

https://www.instagram.com/p/BL0vUNHgOf9/?taken-by=melodydalampuisi

Ijinkan aku merindukanmu dalam diam

Dalam doa-doa yang kutitipkan padaNya untukmu, untuk kita
Semoga hanya dengan cara baik yang diridhoiNya kita dipertemukan, didekatkan, dan disatukan

Kamis, 22 September 2016

Be Strong

"Bukan mereka yang menyakitimu, tapi kamu yang belum bisa menjaga hati agar tidak mudah tersakiti"

That might the conclusion about what that happened today. Sedih ketika mengetahui bahwa orang baik di depan kita tapi tidak di belakang kita. Sedih ketika keadaan menempatkanmu pada posisi yang tak mudah. Sedih ketika sampai detik ini aku belum juga menemui kepastian tentang siapa kamu. #eaaa pasti yang terakhir nggak ketinggalan.

Hei dear, lembutkanlah hati, tapi jangan mudah tersakiti, be a strong heart ๐Ÿ˜‡


Jodoh

Rinduku padamu sudah keterlaluan dan aku tak tahu harus bagaimana.
Aku tak sanggup mengungkapkan, namun menyimpannya benar-benar menguras perasaan.

Aku ingin seperti Khadijah, tapi aku tak tahu siapa "Muhammad" yang kepadanya ingin kusampaikan rasa.
Aku ingin seperti Fatimah, tapi aku tak tahu siapa "Ali" yang namanya kusimpan rapi dalam hati dan kusebut dalam doa.

Ratusan purnama berlalu, tapi nama dan sosokmu masih tetap abstrak, tak juga terlihat oleh mataku.
Tapi aku yakin kamu nyata, sebagaimana Alloh telah menulisnya.

Kamu nyata, di hatiku... jodoh...

Kamis, 15 September 2016

Tentang Perasaan

I'm feeling so indescribable now, and it's because of someone. (That's what I told Dy yesterday. Dy adalah salah satu tempat sampah plus daur ulang terbaik di dunia).

Dy menjawab dengan sebuah kutipan "kita berdua sudah terlalu tua untuk bermain perasaan, saat ini yang paling penting adalah apakah kita punya tujuan yang sama atau tidak."

Bermain perasaan? tapi bukankah tujuan yang sama tidak menjamin orang-orang bisa berjalan bersama? Dan memaksakan diri menemukan orang-orang dengan tujuan yang sama dan berharap dapat berjalan bersama bisa jadi justru menghabiskan waktu sia-sia. Aku pun sebenarnya lelah bermain perasaan, tapi aku lebih lelah menghabiskan waktu sia-sia dengan memaksakan diri berjalan bersama dan akhirnya berpisah karna memilih jalan yang berbeda meski menuju tujuan yang sama.

Tak ada yang memaksamu memaksakan diri, kamu hanya perlu meyakinkan diri bahwa pasti akan ada seseorang dengan tujuan yang sama yang akan bersedia berjalan bersamamu, kamu hanya perlu berlaku tegas pada hati agar tidak lagi bermain-main dengan perasaan. Karna tidak semua permainan itu berakhir bahagia.
Perasaan bukan untuk dimainkan, tapi dijaga..


Jumat, 09 September 2016

Kedamaian

It has been i long time i did not post anything here. Maybe I'm too busy. Iya, sibuk berdamai dengan diri sendiri. Berdamai tanpa benar-benar mengerti kedamaian seperti apa yang aku cari.

Mungkin kedamaian tanpa rasa sakit, when i could smile sincerily remembering every painful memories.

Mungkin kedamaian ketika ketika rasa rinduku padaMu membawaku pada ketaatan yang sebenar-benarnya ketaatan, bukan ketaatan yang rapuh dan selalu jatuh pada kesalahan yang sama.

Mungkin kedamaian tanpa rasa galau, ketika aku yakin bahwa setiap hari akan mendekatkan jarak di antara kita, meski sampai sekarang aku tak pernah tau siapa kamu, dimana kamu, dan dengan cara seperti apa kita akan dipertemukan dan disatukan.

Rabu, 18 Mei 2016

I'm a teacher and I love it

I'm so grateful to be a teacher. Bagaimana tidak, ketika banyak orang mengeluhkan lingkungan pekerjaan yang membuat stress, aku justru merasakan sebaliknya. Yah, pagi ini aku berangkat dengan berbagai rasa yang bercampur jadi satu, undescribable, I'm just trying to be good, just trying to be cheerful. Sesampainya di kelas, ada saja tingkah murid-muridku yang membuatku benar-benar good dan cheerful. They gave me a surprise today, although my birthday is actually last Sunday. Thanks God, sekali lagi Engkau menunjukkan bahwa dalam satu kesedihan, ada (sedikitnya) dua kebahagiaan. Alhamdulillah...

Senin, 16 Mei 2016

Hujan, Rizki, dan Kamu

Aku selalu kagum tentang bagaimana Alloh mengatur rizki seseorang. Seperti ketika hujan memaksaku berhenti dan menikmati mie ayam di sebuah warung yang jauh dari keramaian, yang dulu sempat terpikir, "apa ada yang beli ya kok warung di tempat sepi kaya gini". Sama juga ketika akhirnya aku menyerah menembus hujan dan terpaksa membeli jas hujan super mahal di *lfamar*, hal yang nggak akan pernah kulakukan dalam keadaan normal ๐Ÿ˜ง.

Kamis, 12 Mei 2016

Air Mata Rindu

Mungkin air mata adalah salah satu ciptaan terhebat pada diri manusia, terutama wanita.
Bagaimana tidak, ia menjadi jawaban saat kata-kata tak mampu menjadi jawaban, ia menjadi penjelasan saat setiap hal terasa sangat tidak bisa dijelaskan, dan dia mewakili setiap rasa yang tak mampu diungkapkan.

Yups, air mata adalah bahasa perasaan, ekspresi dari rasa yang mungkin memang tak bisa diungkapkan dengan rangkaian kata, seperti apa yang kurasakan saat ini. Rasa rindu yang yang merindukan ujungnya...

Selasa, 10 Mei 2016

Subuh terindah

Masih di sepertiga malam, sesaat sebelum perjalanan ke masjid, ibu memintaku untuk mengantar beliau melihat hajar aswad, "Ibu pengen melihat langsung saja kok, kalau memang tidak memungkinkan untuk mencium". Membayangkan begitu banyak orang (mayoritas laki-laki) dengan badan yang besar-besar berebut ingin mencium hajar aswad, membuatku hanya bisa menghela nafas dan mencoba meyakinkan ibu bahwa sunnah ini tidak harus dilakukan kalau pada akhirnya malah membahayakan diri sendiri, apalagi malam ini kami hanya berdua. Bapak terpaksa tidak bisa ke masjid karena harus istirahat supaya bisa melaksanakan thawaf wada', dan si bungsu mendadak haid. Ibu mengajakku mengambil tempat sholat di dekat kabah, supaya setelah sholat subuh bisa langsung merapat ke hajar aswad, beliau berpikir mungkin belum banyak orang yang mendekat sesaat setelah subuh, sesuatu yang aku sangat tidak yakin. 

Indescribable, melewatkan sepertiga malam dan subuh terakhir di baitullah. Ibu dan aku pun larut dalam ruku', sujud, dan doa masing-masing. Sesekali terdengar isak tangis ibu di dalam doa-doanya. Doa yang dari dulu sangat ingin beliau panjatkan di rumah Alloh ini. Ya Alloh, thanks for everything...

Selepas subuh, melihat pusaran manusia yang berthawaf, jujur membuatku berharap ibu mengurungkan niat mendekat ke hajar aswad. "Ibu yakin?", pertanyaan yang kusampaikan dengan harap-harap cemas, dan ibu masih menjawab iya.

Bismillah, dengan masih mencoba meyakinkan diri, aku dan ibu mencoba menembus pusaran thawaf menuju hajar aswad. Alhamdulillah, pertolongan Alloh membawa kami 3 langkah menuju hajar aswad. Keadaan tidak memungkinkan kami untuk lebih mendekat dan mencium batu dari surga itu. "Ibu bahagia sudah bisa melihat langsung hajar aswad, matur nuwun yo nduk", what a word! I could not even respond to what my mother have said. 

That might be the most beautiful Subuh in my life, subuh terindah, subuh terakhir (waktu itu) di Makkah. Semoga suatu saat bertemu kembali dengan Subuh-Subuh indah di dua tanah haram, bersama ibu, bapak, mbak, adik, suami (semoga kita segera dipertemukan), ipar, anak-anak, keponakan, dan orang-orang tercinta...

Makkah, 28-04-2016

Kamis, 24 Maret 2016

Status dan Ikhlas

“Sehat terus ya dek”, “Cepet sembuh ya sayangnya mama”, “Baik-baik di rumah ya sayang”. Seperti itulah status-status ibu muda yang bertebaran di facebook, bbm, Instagram, dll. So sweet, meski sampai sekarang saya masih nggak ngerti kenapa nulis status seperti itu di sosmed sementara 100% saya yakin kalau anaknya belum bisa main gadget apalagi main sosmed.

Pasti mereka sangat bahagia, menikmati hari-hari bersama dengan putra atau putri kecilnya. Bahagia yang sekaligus sedih dan khawatir, terutama untuk para wanita karir yang harus meninggalkan buah hati mereka untuk pekerjaannya bahkan ketika bayi-bayi itu masih menyusui. Tidak heran jika hal ini menjadikan banyak dari mereka mengungkapkan perasaannya di sosmed. Perasaan yang sebenarnya adalah ungkapan sayang mereka yang amat sangat pada buah hatinya. Tidak ada yang salah dengan fenomena ini, yang salah adalah orang-orang yang kemudian menjadi baper karna membaca status-status tersebut, termasuk saya.

Yah, ibu-ibu muda itu tadi mungkin tidak pernah berfikir, bahwa ada orang-orang yang sangat merindukan berada pada posisi mereka. Rindu menjadi wanita sempurna, ketika ada putra putri kecil yang memanggil ibu, mama, ummi, bunda, atau panggilan-panggilan lain yang sangat dirindukan oleh setiap wanita. Kerinduan yang dialami oleh pasangan yang bisa jadi sudah menikah dalam hitungan tahun atau bahkan kerinduan yang dialami oleh wanita-wanita yang belum juga menemukan belahan jiwanya.

Sekali lagi, ibu-ibu muda itu jelas tidak salah, mereka hanya menjawab apa yang ditanyakan sosmed, “What’s on your mind?”. Yang salah adalah orang-orang yang lantas dihinggapi kerinduan yang amat sangat ketika membaca status-status mereka. Orang-orang inilah yang seharusnya bisa mengerti perasaan para ibu-ibu muda itu. Orang-orang inilah yang seharusnya menata ikhlas di hati masing-masing. Ikhlas atas segala ketentuan yang Allah tetapkan pada dirinya, ikhlas menjadi manusia yang diciptakan untuk beribadah kepadaNya, bukan hanya untuk meminta segala hal yang diinginkan, dan ikhlas untuk sepenuhnya berbahagia atas kebahagiaan orang lain.



Rabu, 02 Maret 2016

Please put your words wisely

Sebagai seorang wanita dewasa (meskipun saya kurang yakin apa saya benar-benar bisa dikatakan dewasa atau hanya usia dan penampakannya yang terlihat dewasa), saya sudah cukup lelah menghadapi berbagai macam komentar dan pernyataan yang tidak berperikemanusiaan tentang jodoh. Sadar atau tidak sadar, all these following comments hurt me a lot. So, for everyone who might read this writing, please never pose those comments to anyone.

"Standardmu ketinggian pasti, jadi nggak ketemu-ketemu jodohnya"

Keren banget ya bisa menjudge kalo standard saya ketinggian dan menyimpulkan kalau itu menjadi sebab sampai sekarang saya belum dipertemukan dengan jodoh saya. But anyway, i don't need to tell them about what i'm thinking about my standard. As long as Allah knows, it's enough for me.

"Jangan terlalu sibuk mikir karir, nanti lupa mikir nikah"
I'm sorry to say, yang ini juga sok tau banget. Gimana saya bisa lupa mikir nikah kalau saya tau bahwa menikahkan saya adalah salah satu impian terindah bapak dan ibu saya. Kalaupun saya berkarir, anggaplah itu cara saya menjadi seorang manusia yang lebih bermanfaat bagi manusia-manusia lain, sambil menunggu Allah mempertemukan saya dengan jodoh saya. But i'm sure, you don't even want to listen about what i'm thinking, you just want to judge, aren't you?

"Jangan ditunda-tunda, tidak ada manusia yang sempurna, kata orang hamil di usia lebih dari 30 tahun itu rawan lho"
I have learned about this since I was in primary school, thanks for remind me. Bagaimana bisa dengan mudah mengatakan jangan menunda-nunda ketika anda tidak tau apa yang terjadi dengan saya. A hundred percent I realize that I'm not perfect, jadi bagaimana mungkin saya berpikir untuk mencari yang sempurna. 

"Terlalu sibuk meneliti ini pasti, jadi lupa meneliti laki-laki"
Yes, I'm a researcher and perhaps I'm busy with my research. But, this comment is totally funny and irritate. I'm speechless.

Dear brothers, sisters, 
Here I just wanna say, please put your words wisely. Bersyukurlah dengan hidup kalian yang mungkin lebih "mudah", dengan jalan jodoh yang mungkin lebih mudah,  tapi please jangan menyakiti orang-orang yang hidupnya bisa jadi tidak "semudah" hidup kalian, yang jalan jodohnya bisa jadi tidak semudah kalian.

Minggu, 21 Februari 2016

A Meeting Point

This picture was taken at the car park of Trans Studio Mall, Makassar, Indonesia
"With Him are the keys of the unseen, none knows them but He. He knows that which is in the land and sea. No leaf falls except He knows it, and there is no grain in the darkness of the earth, fresh or withered, but is recorded in a clear Book." ~Al-An'am:59

The verse reminds us to always realize that everything in this universe is under His control, Allaah The Almighty. It is certainly including with whom, when, and where we meet. That is why in this post I want to talk about "meeting point".

Senin, 18 Januari 2016

Please Be Grateful

Perhaps sometimes you think that you are the most miserable person in the world.
When everybody leaves you and you feel so lonely.
When you have not been successful with your love story and you feel so stupid.
When your mom and dad ask about your boyfriend and you just can answer with a bitter smile.
When you have so many things to do and to think...

You just need to see the world from the wider perspective.
Just look around and you'll find that the only thing you have to do is being grateful.

Kamis, 14 Januari 2016

Bisa Jadi

"Mewujudkanmu benar-benar meguras perasaan" ~ Mas Gun #SuaraCerita

Sampai saat ini aku bahkan tak punya bayangan tentang siapa kamu, atau lebih tepatnya tidak berani membayangkan.
Aku tidak berani membayangkan sosokmu, aku hanya berani berharap siapapun kamu semoga kita kelak bisa bersama-sama membangun cinta, membangun syurga, dan menempuh perjalanan menuju cintaNya.

Aku benar-benar tak berani membayangkan siapa kamu, meski sebenarnya aku orang yang suka menduga-duga.
Iya, aku sering menduga-duga tentang kita.

Bisa jadi kita telah pernah berpapasan tapi hanya saling menatap, tanpa ada sapa sama sekali, karna mungkin kita memang belum saling kenal.
Atau bahkan bisa jadi kita sering berada di tempat yang sama. Kita hanya duduk di bangku yang berseberangan, asyik dengan pikiran masing-masing, dan lantas berlalu. Saat itu mungkin kita ingin saling menyapa, tapi sayangnya kita tidak tau caranya memulai.
Dan bisa jadi kita memang belum pernah bertemu. Mungkin kamu masih sedang memperbaiki diri, seperti yang aku juga sedang lakukan. Mungkin kamu sedang melangkah dalam perjalanan menjemputku. 
mungkin...

Tetaplah melangkah hingga setiap hari jarak di antara kita menjadi semakin dekat..