di atas sajadah ini kutulis kenangan
kumemilih cinta yang sejati
di atas sajadah ini kuucapkan salam
perpisahan untukmu di sana
Tampilkan postingan dengan label Heart. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Heart. Tampilkan semua postingan
Senin, 20 Februari 2017
Kamis, 05 Januari 2017
Bukan Sri Ningsih
Jangan telat menikah, orang-orang tidak akan bertanya, "hartamu berapa?", tapi mereka akan bertanya, "anakmu berapa?".
Dulu aku hanya diam, membiarkan pesan itu terbaca tanpa balasan.
Ahhh, wanita sebaik itu, mungkin dia juga hanya bisa diam, tapi diamnya pasti bukan diam yang menahan rasa sakit. Diamnya pasti diam yang ikhlas, diam yang memeluk rasa sakit. Karna rasa cinta pada sahabat telah melebihi rasa sesakit apapun yang pernah dirasakannya.
Tapi aku bukan Sri Ningsih, aku Sri Rejeki, yang masih tertatih berjalan menuju titik di mana aku bisa menerima dengan ikhlas setiap kejadian menyakitkan. Iya, menyakitkan ketika seseorang yang kamu anggap sahabat, ternyata menghakimimu dengan begitu mudah. Menyimpulkan bahwa "harta" adalah alasan kenapa sampai sekarang kamu belum menikah, bahkan tanpa rasa ingin mendengarkan kejadian-kejadian yang telah kamu lewati.
Ahhh, untuk apa juga dia mendengarkan jika apa yang dia lihat menurutnya sudah cukup untuk bisa membuat kesimpulan. Dia mungkin tak memerlukan kerangka pemikiran, hipotesis, apalagi analisis.
Sorry for never respond your message. It's not because I hate you, but I love you, and I'm afraid that my words will become swords.
Untuk setiap orang yang kebetulan membaca postingan ini, mengertilah, "Jangan telat menikah, Jangan telat punya anak, itu berbeda dengan Jangan telat makan" ☺
Itu adalah bunyi pesan singkat dari salah satu sahabatku beberapa tahun yang lalu. Pesan yang sampai sekarang tidak mampu aku balas, karna bagiku itu terlalu menyakitkan.
Dulu aku hanya diam, membiarkan pesan itu terbaca tanpa balasan.
Sekarang, setelah membaca kisah Ibu Sri Ningsih di novel Tentang Kamu, aku jadi seperti Zaman Zulkarnaen yang lantas berpikir, bagaimana jika kalimat itu ditujukan untuk Ibu Sri Ningsih? Kira-kira bagaimana beliau meresponnya?
Ahhh, wanita sebaik itu, mungkin dia juga hanya bisa diam, tapi diamnya pasti bukan diam yang menahan rasa sakit. Diamnya pasti diam yang ikhlas, diam yang memeluk rasa sakit. Karna rasa cinta pada sahabat telah melebihi rasa sesakit apapun yang pernah dirasakannya.
Tapi aku bukan Sri Ningsih, aku Sri Rejeki, yang masih tertatih berjalan menuju titik di mana aku bisa menerima dengan ikhlas setiap kejadian menyakitkan. Iya, menyakitkan ketika seseorang yang kamu anggap sahabat, ternyata menghakimimu dengan begitu mudah. Menyimpulkan bahwa "harta" adalah alasan kenapa sampai sekarang kamu belum menikah, bahkan tanpa rasa ingin mendengarkan kejadian-kejadian yang telah kamu lewati.
Ahhh, untuk apa juga dia mendengarkan jika apa yang dia lihat menurutnya sudah cukup untuk bisa membuat kesimpulan. Dia mungkin tak memerlukan kerangka pemikiran, hipotesis, apalagi analisis.
Sorry for never respond your message. It's not because I hate you, but I love you, and I'm afraid that my words will become swords.
Untuk setiap orang yang kebetulan membaca postingan ini, mengertilah, "Jangan telat menikah, Jangan telat punya anak, itu berbeda dengan Jangan telat makan" ☺
Selasa, 15 November 2016
Kisah Laki-laki dan Perempuan Dewasa
![]() |
| Autumn 2013 di Universiteit Utrecht |
Ini cerita tentang dua manusia dewasa dengan tujuan yang sama, yang mungkin sempat atau bahkan masih mengharapkan dapat menempuh perjalanan bersama. Mungkin tak perlu waktu lama untuk memutuskan berjalan bersama, andai mereka bukan manusia dewasa. As we're getting older, everything's becoming more and more complicated..
Kamis, 10 November 2016
Saat Hujan
Aku berharap kita akan bertemu saat hujan..
Ketika kita berdiri bersebelahan, berteduh sambil memandang setiap tetes air yang jatuh, sibuk dengan pikiran masing-masing, sibuk memikirkan kalimat macam apa yang kiranya bisa dipakai membuka pembicaraan.
Aku berharap kita akan bertemu saat hujan..
Iya, hujan yang tak kunjung reda, sehingga memaksamu untuk memulai pembicaraan yang memecah keheningan.
Ketika kita berdiri bersebelahan, berteduh sambil memandang setiap tetes air yang jatuh, sibuk dengan pikiran masing-masing, sibuk memikirkan kalimat macam apa yang kiranya bisa dipakai membuka pembicaraan.
Aku berharap kita akan bertemu saat hujan..
Iya, hujan yang tak kunjung reda, sehingga memaksamu untuk memulai pembicaraan yang memecah keheningan.
Senin, 07 November 2016
Ta'aruf?
Kamu tahu bagaimana rasanya ketika seorang laki-laki yang katanya berniat taaruf, dengan bukan nada bercanda mengatakan, "kok beda sama yang di foto, lebih cantik di foto"?
Kamu tahu bagaimana rasanya ketika seorang laki-laki yang katanya berniat taaruf mengatakan, "tunggu tiga bulan lagi ya, karena saya belum yakin, akan memilih kamu atau memilih dia"?
Kamu tahu bagaimana rasanya ketika seorang laki-laki yang katanya berniat taaruf mengatakan, "tunggu tiga bulan lagi ya, karena saya belum yakin, akan memilih kamu atau memilih dia"?
Kamis, 22 September 2016
Be Strong
"Bukan mereka yang menyakitimu, tapi kamu yang belum bisa menjaga hati agar tidak mudah tersakiti"
That might the conclusion about what that happened today. Sedih ketika mengetahui bahwa orang baik di depan kita tapi tidak di belakang kita. Sedih ketika keadaan menempatkanmu pada posisi yang tak mudah. Sedih ketika sampai detik ini aku belum juga menemui kepastian tentang siapa kamu. #eaaa pasti yang terakhir nggak ketinggalan.
Hei dear, lembutkanlah hati, tapi jangan mudah tersakiti, be a strong heart 😇
That might the conclusion about what that happened today. Sedih ketika mengetahui bahwa orang baik di depan kita tapi tidak di belakang kita. Sedih ketika keadaan menempatkanmu pada posisi yang tak mudah. Sedih ketika sampai detik ini aku belum juga menemui kepastian tentang siapa kamu. #eaaa pasti yang terakhir nggak ketinggalan.
Hei dear, lembutkanlah hati, tapi jangan mudah tersakiti, be a strong heart 😇
Langganan:
Postingan (Atom)
