Selasa, 15 November 2016

Kisah Laki-laki dan Perempuan Dewasa

Autumn 2013 di Universiteit Utrecht
Tujuan yang sama memang mempertemukan orang-orang dalam perjalanan, tapi tidak selalu menjadi alasan cukup bagi dua orang untuk memutuskan menempuh perjalanan bersama. Life is not simple as it seems..

Ini cerita tentang dua manusia dewasa dengan tujuan yang sama, yang mungkin sempat atau bahkan masih mengharapkan dapat menempuh perjalanan bersama. Mungkin tak perlu waktu lama untuk memutuskan berjalan bersama, andai mereka bukan manusia dewasa. As we're getting older, everything's becoming more and more complicated..


"Kenapa kalian nggak jadian aja?", seorang teman tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu. Pertanyaan yang mungkin membuat detak jantung laki-laki dan perempuan dewasa itu meningkat tiga kali lipat lebih cepat.

Laki-laki dewasa itu berkata, "Saya orang minang, dan ketika saya menikah beda suku, tanah suku kami harus dihibahkan ke orang lain, padahal ada keluarga kami yang masih butuh harta suku itu. Hidup untuk menolong keluarga kami adalah pilihan hidupku"

Perempuan dewasa itu berkata, "Kalau umur saya 22/23 mungkin saya akan memperjuangkanmu. Sekarang saya 29 dan menurut saya, saya sudah mendapatkan rejeki melebihi doa saya, dan ketika saya memperjuangkanmu, saya mengartikan bahwa saya meminta dunia dan seisinya, dan itu bukan aku. Hidup seperti ini adalah pilihan hidupku."

Ahhh perempuan dewasa, aku tau itu tak mudah bagimu. Aku tahu karena selalu ada sepotong cerita tentang laki-laki dewasa itu dalam setiap obrolan kita. Tapi aku lega kamu telah menetapkan pilihan, meski itu pilihan untuk melepaskan.

Aku tahu kamu merasa lega, tapi aku pun tahu terasa ada perih di ujung sana. Ada yang perih di hatimu, juga di hatiku, perih yang lantas membuat aku pun bertanya pada diriku sendiri, "hidup seperti apa yang menjadi pilihanmu?"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar