Rabu, 18 Mei 2016

I'm a teacher and I love it

I'm so grateful to be a teacher. Bagaimana tidak, ketika banyak orang mengeluhkan lingkungan pekerjaan yang membuat stress, aku justru merasakan sebaliknya. Yah, pagi ini aku berangkat dengan berbagai rasa yang bercampur jadi satu, undescribable, I'm just trying to be good, just trying to be cheerful. Sesampainya di kelas, ada saja tingkah murid-muridku yang membuatku benar-benar good dan cheerful. They gave me a surprise today, although my birthday is actually last Sunday. Thanks God, sekali lagi Engkau menunjukkan bahwa dalam satu kesedihan, ada (sedikitnya) dua kebahagiaan. Alhamdulillah...

Senin, 16 Mei 2016

Hujan, Rizki, dan Kamu

Aku selalu kagum tentang bagaimana Alloh mengatur rizki seseorang. Seperti ketika hujan memaksaku berhenti dan menikmati mie ayam di sebuah warung yang jauh dari keramaian, yang dulu sempat terpikir, "apa ada yang beli ya kok warung di tempat sepi kaya gini". Sama juga ketika akhirnya aku menyerah menembus hujan dan terpaksa membeli jas hujan super mahal di *lfamar*, hal yang nggak akan pernah kulakukan dalam keadaan normal 😧.

Kamis, 12 Mei 2016

Air Mata Rindu

Mungkin air mata adalah salah satu ciptaan terhebat pada diri manusia, terutama wanita.
Bagaimana tidak, ia menjadi jawaban saat kata-kata tak mampu menjadi jawaban, ia menjadi penjelasan saat setiap hal terasa sangat tidak bisa dijelaskan, dan dia mewakili setiap rasa yang tak mampu diungkapkan.

Yups, air mata adalah bahasa perasaan, ekspresi dari rasa yang mungkin memang tak bisa diungkapkan dengan rangkaian kata, seperti apa yang kurasakan saat ini. Rasa rindu yang yang merindukan ujungnya...

Selasa, 10 Mei 2016

Subuh terindah

Masih di sepertiga malam, sesaat sebelum perjalanan ke masjid, ibu memintaku untuk mengantar beliau melihat hajar aswad, "Ibu pengen melihat langsung saja kok, kalau memang tidak memungkinkan untuk mencium". Membayangkan begitu banyak orang (mayoritas laki-laki) dengan badan yang besar-besar berebut ingin mencium hajar aswad, membuatku hanya bisa menghela nafas dan mencoba meyakinkan ibu bahwa sunnah ini tidak harus dilakukan kalau pada akhirnya malah membahayakan diri sendiri, apalagi malam ini kami hanya berdua. Bapak terpaksa tidak bisa ke masjid karena harus istirahat supaya bisa melaksanakan thawaf wada', dan si bungsu mendadak haid. Ibu mengajakku mengambil tempat sholat di dekat kabah, supaya setelah sholat subuh bisa langsung merapat ke hajar aswad, beliau berpikir mungkin belum banyak orang yang mendekat sesaat setelah subuh, sesuatu yang aku sangat tidak yakin. 

Indescribable, melewatkan sepertiga malam dan subuh terakhir di baitullah. Ibu dan aku pun larut dalam ruku', sujud, dan doa masing-masing. Sesekali terdengar isak tangis ibu di dalam doa-doanya. Doa yang dari dulu sangat ingin beliau panjatkan di rumah Alloh ini. Ya Alloh, thanks for everything...

Selepas subuh, melihat pusaran manusia yang berthawaf, jujur membuatku berharap ibu mengurungkan niat mendekat ke hajar aswad. "Ibu yakin?", pertanyaan yang kusampaikan dengan harap-harap cemas, dan ibu masih menjawab iya.

Bismillah, dengan masih mencoba meyakinkan diri, aku dan ibu mencoba menembus pusaran thawaf menuju hajar aswad. Alhamdulillah, pertolongan Alloh membawa kami 3 langkah menuju hajar aswad. Keadaan tidak memungkinkan kami untuk lebih mendekat dan mencium batu dari surga itu. "Ibu bahagia sudah bisa melihat langsung hajar aswad, matur nuwun yo nduk", what a word! I could not even respond to what my mother have said. 

That might be the most beautiful Subuh in my life, subuh terindah, subuh terakhir (waktu itu) di Makkah. Semoga suatu saat bertemu kembali dengan Subuh-Subuh indah di dua tanah haram, bersama ibu, bapak, mbak, adik, suami (semoga kita segera dipertemukan), ipar, anak-anak, keponakan, dan orang-orang tercinta...

Makkah, 28-04-2016

Kamis, 24 Maret 2016

Status dan Ikhlas

“Sehat terus ya dek”, “Cepet sembuh ya sayangnya mama”, “Baik-baik di rumah ya sayang”. Seperti itulah status-status ibu muda yang bertebaran di facebook, bbm, Instagram, dll. So sweet, meski sampai sekarang saya masih nggak ngerti kenapa nulis status seperti itu di sosmed sementara 100% saya yakin kalau anaknya belum bisa main gadget apalagi main sosmed.

Pasti mereka sangat bahagia, menikmati hari-hari bersama dengan putra atau putri kecilnya. Bahagia yang sekaligus sedih dan khawatir, terutama untuk para wanita karir yang harus meninggalkan buah hati mereka untuk pekerjaannya bahkan ketika bayi-bayi itu masih menyusui. Tidak heran jika hal ini menjadikan banyak dari mereka mengungkapkan perasaannya di sosmed. Perasaan yang sebenarnya adalah ungkapan sayang mereka yang amat sangat pada buah hatinya. Tidak ada yang salah dengan fenomena ini, yang salah adalah orang-orang yang kemudian menjadi baper karna membaca status-status tersebut, termasuk saya.

Yah, ibu-ibu muda itu tadi mungkin tidak pernah berfikir, bahwa ada orang-orang yang sangat merindukan berada pada posisi mereka. Rindu menjadi wanita sempurna, ketika ada putra putri kecil yang memanggil ibu, mama, ummi, bunda, atau panggilan-panggilan lain yang sangat dirindukan oleh setiap wanita. Kerinduan yang dialami oleh pasangan yang bisa jadi sudah menikah dalam hitungan tahun atau bahkan kerinduan yang dialami oleh wanita-wanita yang belum juga menemukan belahan jiwanya.

Sekali lagi, ibu-ibu muda itu jelas tidak salah, mereka hanya menjawab apa yang ditanyakan sosmed, “What’s on your mind?”. Yang salah adalah orang-orang yang lantas dihinggapi kerinduan yang amat sangat ketika membaca status-status mereka. Orang-orang inilah yang seharusnya bisa mengerti perasaan para ibu-ibu muda itu. Orang-orang inilah yang seharusnya menata ikhlas di hati masing-masing. Ikhlas atas segala ketentuan yang Allah tetapkan pada dirinya, ikhlas menjadi manusia yang diciptakan untuk beribadah kepadaNya, bukan hanya untuk meminta segala hal yang diinginkan, dan ikhlas untuk sepenuhnya berbahagia atas kebahagiaan orang lain.



Rabu, 02 Maret 2016

Please put your words wisely

Sebagai seorang wanita dewasa (meskipun saya kurang yakin apa saya benar-benar bisa dikatakan dewasa atau hanya usia dan penampakannya yang terlihat dewasa), saya sudah cukup lelah menghadapi berbagai macam komentar dan pernyataan yang tidak berperikemanusiaan tentang jodoh. Sadar atau tidak sadar, all these following comments hurt me a lot. So, for everyone who might read this writing, please never pose those comments to anyone.

"Standardmu ketinggian pasti, jadi nggak ketemu-ketemu jodohnya"

Keren banget ya bisa menjudge kalo standard saya ketinggian dan menyimpulkan kalau itu menjadi sebab sampai sekarang saya belum dipertemukan dengan jodoh saya. But anyway, i don't need to tell them about what i'm thinking about my standard. As long as Allah knows, it's enough for me.

"Jangan terlalu sibuk mikir karir, nanti lupa mikir nikah"
I'm sorry to say, yang ini juga sok tau banget. Gimana saya bisa lupa mikir nikah kalau saya tau bahwa menikahkan saya adalah salah satu impian terindah bapak dan ibu saya. Kalaupun saya berkarir, anggaplah itu cara saya menjadi seorang manusia yang lebih bermanfaat bagi manusia-manusia lain, sambil menunggu Allah mempertemukan saya dengan jodoh saya. But i'm sure, you don't even want to listen about what i'm thinking, you just want to judge, aren't you?

"Jangan ditunda-tunda, tidak ada manusia yang sempurna, kata orang hamil di usia lebih dari 30 tahun itu rawan lho"
I have learned about this since I was in primary school, thanks for remind me. Bagaimana bisa dengan mudah mengatakan jangan menunda-nunda ketika anda tidak tau apa yang terjadi dengan saya. A hundred percent I realize that I'm not perfect, jadi bagaimana mungkin saya berpikir untuk mencari yang sempurna. 

"Terlalu sibuk meneliti ini pasti, jadi lupa meneliti laki-laki"
Yes, I'm a researcher and perhaps I'm busy with my research. But, this comment is totally funny and irritate. I'm speechless.

Dear brothers, sisters, 
Here I just wanna say, please put your words wisely. Bersyukurlah dengan hidup kalian yang mungkin lebih "mudah", dengan jalan jodoh yang mungkin lebih mudah,  tapi please jangan menyakiti orang-orang yang hidupnya bisa jadi tidak "semudah" hidup kalian, yang jalan jodohnya bisa jadi tidak semudah kalian.

Minggu, 21 Februari 2016

A Meeting Point

This picture was taken at the car park of Trans Studio Mall, Makassar, Indonesia
"With Him are the keys of the unseen, none knows them but He. He knows that which is in the land and sea. No leaf falls except He knows it, and there is no grain in the darkness of the earth, fresh or withered, but is recorded in a clear Book." ~Al-An'am:59

The verse reminds us to always realize that everything in this universe is under His control, Allaah The Almighty. It is certainly including with whom, when, and where we meet. That is why in this post I want to talk about "meeting point".